Tubelover Indonesia

Passion - Music - Art

Amplifier Tabung Single-Ended Produk Dalam Negeri

(Dikutip dengan ijin dari majalah Audio Lifestyle edisi Agustus 2007)

Menyambut HUT Republik Indonesia pada bulan Agustus, ada yang sedikit berbeda pada rubrik Equipment Review di edisi kali ini. Review yang sedang anda baca ini tidak dilakukan secara khusus oleh Audio Lifestyle terhadap sebuah perangkat seperti biasanya, melainkan dilakukan oleh beberapa pehobi audio high-end di kediaman Kusnadi, salah satu pengurus Indonesia High End Audio Club (IHEAC). Ya, acara ini memang diprakarsai beberapa anggota IHEAC, terbuka bagi siapapun yang ingin hadir dan diliput oleh tiga media sekaligus; Kompas, Audio Video dan Audio Lifestyle. Materinya pun spesial, yaitu khusus menguji dengar bersama amplifier 300B single-ended buatan produsen dalam negeri, yang berdaya output sekitar 8 watt saja. Maka beberapa produsen lokal pun diundang datang dengan membawa amplifier andalan masing-masing. Mereka itu adalah:

Suara Audio

Diwakili oleh kehadiran Arief Hidayat dan Adam Nugraha yang merupakan ketua seksi pembinaan produk dalam negeri di IHEAC, Suara Audio menampilkan amplifier 300B monoblock, dengan menggunakan tabung Shuguang 300B dan driver Tungsol 6SL7 black glass. Rectifier yang digunakan adalah Sovtek 5U3c (5U4). Semua transformer termasuk output transformer adalah buatan Suara Audio sendiri. Tampilan fisik amplifier ini terlihat manis, simpel dan rapi dengan kombinasi kayu berwarna red-mahony glossy dan top plate dengan finishing keemasan yang berkilau.

Analogue Definition

Merupakan merek baru yang dibuat oleh pemain lama, Adityawarman, Analogue Definition hadir dengan amplifier 300B monoblock yang menggunakan tabung TJ Full Music 300B, Kenrad 6SN7 black glass, serta rectifier 5U4G. Output transformer menggunakan Tango yang dikenal berkualitas sangat baik. Tampilan fisik amplifier ini terlihat gagah dengan sasis full-metal berwarna serba hitam. Tulisan Analogue Definition warna putih tampak pada panel depan yang terbuat dari alumunium tebal. Selain amplifier, Analogue Definition juga membawa serta preamp 6SN7 untuk diperdengarkan pula pada kesempatan ini.

Jess Audio

Merek yang dikomandani Gunawan yang berdomisili di Bandung ini menampilkan amplifier 300B dengan materi komponen termewah di antara semua amplifier yang hadir pada acara ini. Menggunakan tabung TJ Full Music 300B, driver Western Electric 437A dan rectifier Sylvania 5931, amplifier inipun ditaburi sederetan transformer buatan Tango, mulai dari output transformer, interstage transformer, choke, hingga power transformer. Belum lagi sepasang kapasitor super mahal Black Gate WKZ “Heart of Muse” dan terminal buatan WBT Jerman. Amplifier ini tampil klasik dengan sasis kayu plus top plate metal berwarna hitam.

Amplifier 300B Afu

Walau tanpa sebuah merk komersial, amplifier 300B karya almarhum Afu pun dihadirkan dalam acara ini, mengingat reputasi almarhum Afu dalam membuat amplifier tabung yang bersuara bagus. Amplifier ini “dipersenjatai” tabung TJ Full Music 300B, tabung driver Western Electric JAN-CW4, tabung input Kenrad JAN 6J5 dan sepasang rectifier GEC U52. Semua output transformer, interstage transformer, hingga power transformer dibuat sendiri oleh almarhum Afu. Fisiknya pun tampak kokoh dengan sasis stainless steel yang mengkilat.

Tubelover

Produsen amplifier tabung yang satu ini sayangnya tidak menghadirkan amplifier 300B yang menurut Arif Wicaksono sedang out-of-stock. Namun Tubelover datang dengan membawa amplifier 2A3 dan amplifier 50. Dengan sasis kayu warna natural dan top plate tembaga berwarna hitam metalik, kedua amplifier Tubelover ini tampil dengan finishing baru yang nampak mewah. Tubelover 2A3 dipersenjatai tabung AVVT 2A3 mesh-plate dengan driver Telefunken KC1 dan rectifier Western Electric 274A. Output transformer menggunakan Tango. Sedangkan Tubelover 50 menggunakan tabung Sylvania 50, driver Mullard ECC32 dan rectifier Sylvania 5931. Output transformer menggunakan Tamura.

Rich Audio

Alex Pangkarego dari Rich Audio pun datang tanpa amplifier 300B, melainkan sepasang speaker jenis bookshelf yang diberinya nama Black Widow. Menurut Alex ini speaker lama yang tampil kembali dengan finishing hitam glossy dengan kualitas yang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Rich Audio juga membawa prototype sepasang kabinet speaker floorstander yang terlihat dikerjakan dengan rapi, dengan kombinasi finishing natural wood dan black-piano.

Sebagai perangkat referensi, digunakan amplifier 300B buatan Air Tight, Jepang, yang dilengkapi dengan tabung Western Electric 300B yang legendaris itu, dengan input tabung 12AU7 dan driver 12BH7, serta semua transformer buatan Tamura. Semua amplifier dihubungkan pada belt-drive CD player CEC TL51XR dan preamp pasif Audio Synthesis Passion. Untuk speaker digunakan Loth-X yang berjenis full-range dengan kabinet horn loaded dan sensitivitas mencapai 108dB! Materi software yang digunakan cukup variatif, mulai dari yang menonjolkan vokal seperti tembang Reason To Leave, hingga permainan instrumen musik yang penuh dinamika.

Selain perangkat di atas, masih ada preamp pasif menggunakan transformer yang dibawa Rudi, seorang DIYer, yang sempat diuji coba di sini. Kami mencatat preamp pasif karya Rudi ini tampil open di nada-nada mid dan extended di high, namun kurang bagus di nada-nada rendah. Bass terdengar kurang berbobot. Nampaknya tonal balance kurang berimbang.

Kami mencatat, hampir semua amplifier 300B buatan dalam negeri yang hadir pada “review bareng” ini ternyata memiliki kualitas suara yang patut dibanggakan. Catatan khusus kami berikan untuk amplifier Jess Audio 300B yang menurut kami seharusnya menghasilkan suara yang menunjukkan kualitas komponen mahal yang digunakan. Sayangnya, amplifier ini terdengar kering, musik terasa kurang ada emosi. Namun bukannya tanpa kelebihan, Jess Audio ini bagus dalam hal kolorasi yang minimal dibanding amplifier 300B lainnya.

Amplifier 300B karya Afu menunjukkan suara yang paling bertenaga dan bass berbobot di antara amplifier 300B yang di-review, speed dan dinamika sangat bagus. Vokal terdengar tegas dan sedikit kaku. Kolorasi khas 300B sangat kental sehingga mengurangi kesan natural, yang kentara pada saat permainan instrumen musik. Analogue Definition 300B juga tampil cukup bagus, suara lumayan berbobot, hanya sedikit kurang transparan saja. Vokal terasa lebih forward dibanding amplifier 300B lain pada review ini. Bass tak sebagus amplifier Afu. Sebaliknya Suara Audio 300B berkarakter sangat mellow dan laid back, dengan vokal yang tebal dan empuk khas 300B. Namun sayangnya speed dan detil terasa kurang, nada-nada tinggi tersalur kurang terbuka. Amplifier ini lebih cocok untuk jenis musik kalem/lembut.

Sedangkan Air Tight 300B walau bersuara transparan dengan transient bagus untuk ukuran amplifier 300B, namun terasa tipis dan terlalu bright. Kami prediksi amplifier ini kurang matched dengan preamp pasif yang digunakan. Terbukti saat dihubungkan langsung ke CD player, kualitas suara Air Tight ini meningkat cukup signifikan. Tubelover 2A3 kami dengar bersuara paling live, natural dan detil. Bass terdengar gesit, namun sibilans di lagu Reason to Leave terasa sedikit tajam. Tonal balance amplifier berdaya output 3,5 watt itu sangat bagus dibanding semua amplifier 300B yang di-review. Sementara Tubelover 50 walau sangat bagus dalam merepro vokal yang lentur dan penuh emosi, namun terasa kurang bertenaga. Nampaknya amplifier 2 watt output ini kurang cocok dipasangkan dengan preamp pasif.

Walau review ini dimaksudkan untuk menilai kelebihan dan kekurangan masing-masing amplifier dan tak bertujuan mencari pemenang, toh faktor perbedaan preferensi dan selera pendengar tetap tak terhindarkan. Dari survei kecil yang kami lakukan, terungkap bahwa mereka yang hadir memiliki favoritnya masing-masing (dapat anda lihat pada box). Secara umum, kualitas suara amplifier tabung buatan dalam negeri ini memang sudah bisa bersaing. Hanya saja jika tujuannya komersial, masih banyak PR yang harus diselesaikan oleh para produsen dalam negeri, terutama dalam hal standar produksi dan build-quality.


Siapa Memilih Apa

Danni Chairil (pengurus IHEAC) : “Kalau saya lebih suka Tubelover 2A3. Masing-masing amp 300B ada plus-minusnya. Pilihan saya: 1. Amp 300B Afu, 2. Analogue Definition. Perbedaan masing-masing power amp yang di-review hanya tipis. Kecuali Jess Audio yang kurang memenuhi standar.”

Kusnadi Pangestu (tuan rumah, pengurus IHEAC) : “Memang semua sudah bagus. Analogue Definition sedikit slow dan bertabir, kurang terbuka. Tubelover 2A3 memang lebih linear, high, mid, low merata kualitasnya. Bass-nya lebih baik dari amp 300B. Amp 300B di mid saja lebih blooming dan bertenaga. Untuk amp 300B, Air Tight unggul transparansi, detil, transient/speed, naturalness dan kehalusan frekwensi tinggi. Suara Audio 300B lebih baik dari amp 300B lainnya, lebih ada bobot di mid.”

Sutrisno (audiophile) : “Untuk amp 300B urutan pilihan saya amp Afu, Analogue Definition, Suara Audio, dan terakhir Jess Audio. Tadi Tubelover 50 gak tampil maksimal jadi tidak bisa dinilai. Kalau Tubelover 2A3 sih bagus, cuman ya beda karakter dengan amp 300B. Kalau saya harus memilih, ya pilih Tubelover 2A3.”

Iwan Ariawan (audiophile) : “Untuk amp 300B menurut saya urutannya adalah amp Afu, terus Analogue Definition, Suara Audio. Saya kaget dengan penampilan Air Tight yang sudah pakai WE 300B, kok tadi kurang bagus ya? Untuk amp Tubelover, feeling saya bagusan yang 50 kalau pakai preamp aktif.”

Nyoman Linarda (DIYer) : “Jess Audio 300B sebetulnya ada bahan bagus, kolorasinya minimal, tidak terlalu tebal dan wooly seperti amp 300B lainnya. Tetapi sayang dynamics tidak bagus, suaranya tidak terbuka. Rasanya ada yang kurang pas dalam desainnya, mengingat komponen yang dipergunakan benar-benar kelas mahal. Amp 300B Afu menurut saya cukup bagus namun kurang kontrol. Analogue Definition yang terbaik untuk amp 300B, tetapi semua amp 300B tadi kalah bagus dibanding Tubelover 2A3.”