Tubelover Indonesia

Passion - Music - Art

Kontroversi Seputar Blind Test


Maraknya kegiatan blind test yang dimotori para DIYers belakangan ini rupanya memancing kontroversi dan polemik di antara sebagian audiophile. Sebagian yang pro kegiatan ini lebih banyak melihat pada tujuan utama blind test itu sendiri, yang sering saya singgung dalam berbagai kesempatan, termasuk ketika sebuah stasiun TV mewawancarai saya. Yaitu bahwa blind test lebih merupakan sarana having fun, sekaligus kesempatan bagi para DIYers dan perancang audio lokal untuk melakukan benchmarking, baik terhadap sesama produk lokal, dan lebih-lebih terhadap produk audio impor yang telah mendunia dan diakui kualitasnya. Tentu ini kesempatan baik bagi para perancang lokal ataupun DIYers untuk melakukan komparasi secara gratis.

Mengapa harus blind test? Bukankah dengan blind test kita tak bisa melihat keindahan tampilan fisik dan built quality suatu perangkat yang sedang diuji? Bukankah mutu suatu perangkat tidak hanya diukur dari kualitas suaranya, melainkan juga faktor penampilan, reliability dan daya tahannya? Benar, tetapi metode blind test justru dipilih untuk mengukur persepsi kita terhadap kualitas audio suatu perangkat, tanpa “terganggu” oleh penampilan fisik dan nama besar suatu merk. Jadi mereka yang memilih metode blind-test tentu ingin berkonsentrasi pada mutu suara suatu perangkat. Lagi pula menilai kualitas suara suatu perangkat tanpa melihat barangnya, selalu mengandung “unsur kejutan”, dan justru di sinilah unsur fun itu muncul. Diskusi hangat yang terjadi setelah lomba berakhir pun merupakan sesuatu yang sangat mengasyikkan. It’s fun.


Apakah perangkat yang unggul dalam blind test memang perangkat terbaik? Tentu saja ini bersifat sangat relatif. Mereka yang rajin hadir dalam blind test itu pun sangat paham bahwa matching suatu perangkat terhadap keseluruhan sistem, matching keseluruhan sistem dengan kondisi akustik ruangan, serta faktor selera juri, akan menentukan perangkat mana yang dianggap terbaik pada suatu sesi blind test. Sebagaimana kenikmatan dalam mendengar musik itu sendiri, maka persepsi adalah subyektif dan sangat personal sifatnya. Maka tak jadi masalah perangkat apa yang juara dalam blind test. Yang lebih utama adalah bahwa mereka yang hadir dapat melakukan komparasi terhadap perangkat-perangkat yang sedang diuji. Setiap pengunjung boleh lah menentukan juaranya masing-masing. Sementara DIYers dan perancang lokal bisa mengukur kemajuan yang telah dicapainya. Tak boleh ada hard-feeling di sini, ini bukan semata-mata soal kalah-menang, meski ada pula blind test yang menyediakan hadiah cukup menggiurkan bagi sang pemenang.

Ada pula yang mempersoalkan metode pengujian dalam blind test, kriteria penilaian, penentuan perangkat pendukung, jenis lagu untuk pengujian, posisi duduk juri yang tak ideal, hingga soal setting ruangan yang dipergunakan. Setiap metode tentu saja mengandung sejumlah kelemahan, demikian pula dengan blind test. Pertanyaannya adalah: mau seobyektif apa? Mendengar musik adalah subyektif. Namun dengan blind test, at least, setiap yang hadir bisa menilai kualitas suara sebuah perangkat secara obyektif (tanpa pengaruh merk dan tampilan) melalui subyektivitasnya (selera dan preferensi) masing-masing. Meski blind test mengandung tujuan benchmarking, perlu pula diingat bahwa tujuan blind test adalah juga having fun. Kalau dibuat terlalu serius, dengan kriteria dan metode yang sangat rumit, yang toh tak akan menjamin hasilnya obyektif, bisa-bisa malah jadi gak fun lagi.